Siapa sih yang tidak kenal kentang? Umbi dengan nama ilmiah Solanum tuberosum ini bukan hanya jadi andalan di dapur tetapi juga termasuk komoditas besar di Indonesia. Menurut Statistik Pertanian Hortikultura BPS (2024), produksi kentang nasional mencapai 12.704.492,21 kwintal angka yang menunjukkan betapa dekatnya bahan pangan ini dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai makanan, kentang serba bisa ia bisa berubah menjadi kentang goreng yang bikin mood naik, perkedel yang jadi primadona warung nasi Padang, sampai mashed potato yang creamy dan lembut. Tapi di balik semua kelezatannya, ada sisi lain dari kentang yang jarang disadari orang. Si bulat cokelat sederhana ini ternyata bisa diolah menjadi plastik ramah lingkungan yang membantu bumi bernapas lebih lega. Dari dapur hingga laboratorium, kentang diam-diam punya peran baru dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau.
Di
balik bentuknya yang sederhana, kentang menyimpan satu kandungan penting yang
membuatnya begitu istimewa: Amilum Solani. Amilum Solani atau pati kentang
inilah alasan utama mengapa dapat dijadikan bahan dasar plastik ramah
lingkungan. Kandungan patinya pun cukup melimpah. Berdasarkan penelitian
Radhiyatullah et al. (2015), kentang mengandung sekitar 22–28% pati, jumlah
yang tergolong tinggi untuk bahan pangan. Sementara itu, Sari (2014) menemukan
bahwa kentang lokal memiliki sekitar 15% pati dengan kadar air 10%, dan lebih
dari 12,5% di antaranya merupakan Resistant Starch type 2 (RS2), jenis
pati yang secara alami lebih stabil serta sangat mendukung pembentukan film
bioplastik. Dari data tersebut, terlihat jelas bahwa kentang tidak hanya unggul
sebagai bahan masakan, tetapi juga sebagai sumber pati alami yang kuat, stabil,
dan ideal untuk dijadikan bioplastik. Umbi sederhana ini punya kapasitas besar
untuk menghasilkan edible film yang fleksibel, aman, dan tetap ramah
lingkungan. Jadi, saat kita memandang kentang di dapur, sebenarnya kita sedang
melihat calon “pahlawan kecil” bagi bumi.
Edible
film berbahan pati kentang menawarkan manfaat besar sebagai alternatif plastik
sekali pakai. Film ini aman digunakan untuk kemasan pangan, mudah terurai
secara alami, dan tidak meninggalkan residu berbahaya. Menurut Radhiyatullah et
al. (2015), pati kentang memiliki karakteristik yang mendukung pembentukan
bioplastik ketika dipadukan dengan plasticizer seperti gliserol. Karena itu,
edible film dapat digunakan sebagai pembungkus makanan kering, pelapis buah
agar lebih tahan lama hingga komponen kemasan ramah lingkungan lainnya. Namun,
seperti inovasi baru pada umumnya, edible film dari pati kentang masih memiliki
beberapa tantangan, terutama dalam hal ketahanan terhadap air dan panas.
Industri dan akademisi masih terus mengembangkan formulasi baru agar edible
film semakin kuat, stabil, dan siap diproduksi massal.
Proses
pembuatan edible film dari kentang sebenarnya cukup sederhana. Kentang dikupas,
dicuci lalu diolah untuk memisahkan patinya. Pati tersebut kemudian dicampur
dengan air dan ditambahkan gliserol agar teksturnya lebih lentur. Setelah
dipanaskan hingga mengental, campuran ini dituangkan ke permukaan datar dan
dikeringkan hingga berubah menjadi lembaran tipis mirip plastik. Meski tampak
sederhana, proses ini menghasilkan bahan kemasan yang fleksibel, aman dan jauh
lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik konvensional.
Di
dunia nyata, beberapa produk sudah mulai menggunakan bioplastik berbasis pati
sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan ramah lingkungan. Ada kemasan makanan
ringan yang memakai plastik biodegradable dari pati, pelapis buah yang menjaga
kesegarannya lebih lama tanpa bahan sintetis, hingga sendok atau sedotan yang
bisa larut dalam air panas. Meskipun sebagian besar masih menggunakan pati
singkong atau jagung, teknologi yang sama juga sangat memungkinkan diterapkan
pada pati kentang dan potensinya tidak kalah besar untuk dikembangkan dalam
waktu dekat.
Dengan
meningkatnya kesadaran lingkungan, inovasi bioplastik dari kentang punya
peluang besar dalam industri masa depan. Teknologi ini membuka ruang bagi
kemasan yang lebih aman, berkelanjutan dan ramah bumi. Kentang pun tidak lagi
sekadar bahan makanan, tetapi menjadi solusi kecil bagi masalah lingkungan yang
besar. Dari umbi sederhana, lahir harapan baru untuk masa depan yang lebih
hijau dan sehat.
Pada
akhirnya, kentang mengajarkan satu hal penting: bahwa hal-hal kecil yang
terlihat biasa saja ternyata punya dampak besar. Dari bahan makanan yang akrab
di mata kita, ternyata tersimpan potensi untuk mengurangi jejak plastik dan
menciptakan kemasan yang lebih bertanggung jawab. Inovasi edible film dari pati
kentang bukan sekadar eksperimen laboratorium, tetapi langkah nyata menuju masa
depan yang lebih bersih. Dan mungkin, lewat pilihan kecil seperti ini, generasi
kita bisa menunjukkan bahwa perubahan besar dimulai dari hal-hal paling
sederhana—bahkan dari sebutir kentang.
Referensi
BPS, Statistik Pertanian
Hortikultura SPH/BPS-Statistics Indonesia, Agricultural Statistic for
Horticulture SPH (2024)
Radhiyatullah, A., Indriani, N.,
& Ginting, M. H. S. (2015). Pengaruh berat pati dan volume plasticizer
gliserol terhadap karakteristik film bioplastik pati kentang. Jurnal
Teknik Kimia USU, 4(3), 35-39.
Sari, F. K. (2014). Ekstraksi pati
resisten dari tiga varietas kentang lokal yang berpotensi sebagai kandidat
prebiotik. Berkala Ilmiah Pertanian, 1(3), 38-42.

No comments:
Post a Comment