12.15.2025

Kentang Glow Up: Dari Makanan Comfort Jadi Kemasan Ramah Lingkungan


 

Siapa sih yang tidak kenal kentang? Umbi dengan nama ilmiah Solanum tuberosum ini bukan hanya jadi andalan di dapur tetapi juga termasuk komoditas besar di Indonesia. Menurut Statistik Pertanian Hortikultura BPS (2024), produksi kentang nasional mencapai 12.704.492,21 kwintal angka yang menunjukkan betapa dekatnya bahan pangan ini dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai makanan, kentang serba bisa ia bisa berubah menjadi kentang goreng yang bikin mood naik, perkedel yang jadi primadona warung nasi Padang, sampai mashed potato yang creamy dan lembut. Tapi di balik semua kelezatannya, ada sisi lain dari kentang yang jarang disadari orang. Si bulat cokelat sederhana ini ternyata bisa diolah menjadi plastik ramah lingkungan yang membantu bumi bernapas lebih lega. Dari dapur hingga laboratorium, kentang diam-diam punya peran baru dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau.

Di balik bentuknya yang sederhana, kentang menyimpan satu kandungan penting yang membuatnya begitu istimewa: Amilum Solani. Amilum Solani atau pati kentang inilah alasan utama mengapa dapat dijadikan bahan dasar plastik ramah lingkungan. Kandungan patinya pun cukup melimpah. Berdasarkan penelitian Radhiyatullah et al. (2015), kentang mengandung sekitar 22–28% pati, jumlah yang tergolong tinggi untuk bahan pangan. Sementara itu, Sari (2014) menemukan bahwa kentang lokal memiliki sekitar 15% pati dengan kadar air 10%, dan lebih dari 12,5% di antaranya merupakan Resistant Starch type 2 (RS2), jenis pati yang secara alami lebih stabil serta sangat mendukung pembentukan film bioplastik. Dari data tersebut, terlihat jelas bahwa kentang tidak hanya unggul sebagai bahan masakan, tetapi juga sebagai sumber pati alami yang kuat, stabil, dan ideal untuk dijadikan bioplastik. Umbi sederhana ini punya kapasitas besar untuk menghasilkan edible film yang fleksibel, aman, dan tetap ramah lingkungan. Jadi, saat kita memandang kentang di dapur, sebenarnya kita sedang melihat calon “pahlawan kecil” bagi bumi.

Edible film berbahan pati kentang menawarkan manfaat besar sebagai alternatif plastik sekali pakai. Film ini aman digunakan untuk kemasan pangan, mudah terurai secara alami, dan tidak meninggalkan residu berbahaya. Menurut Radhiyatullah et al. (2015), pati kentang memiliki karakteristik yang mendukung pembentukan bioplastik ketika dipadukan dengan plasticizer seperti gliserol. Karena itu, edible film dapat digunakan sebagai pembungkus makanan kering, pelapis buah agar lebih tahan lama hingga komponen kemasan ramah lingkungan lainnya. Namun, seperti inovasi baru pada umumnya, edible film dari pati kentang masih memiliki beberapa tantangan, terutama dalam hal ketahanan terhadap air dan panas. Industri dan akademisi masih terus mengembangkan formulasi baru agar edible film semakin kuat, stabil, dan siap diproduksi massal.

Proses pembuatan edible film dari kentang sebenarnya cukup sederhana. Kentang dikupas, dicuci lalu diolah untuk memisahkan patinya. Pati tersebut kemudian dicampur dengan air dan ditambahkan gliserol agar teksturnya lebih lentur. Setelah dipanaskan hingga mengental, campuran ini dituangkan ke permukaan datar dan dikeringkan hingga berubah menjadi lembaran tipis mirip plastik. Meski tampak sederhana, proses ini menghasilkan bahan kemasan yang fleksibel, aman dan jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik konvensional.

Di dunia nyata, beberapa produk sudah mulai menggunakan bioplastik berbasis pati sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan ramah lingkungan. Ada kemasan makanan ringan yang memakai plastik biodegradable dari pati, pelapis buah yang menjaga kesegarannya lebih lama tanpa bahan sintetis, hingga sendok atau sedotan yang bisa larut dalam air panas. Meskipun sebagian besar masih menggunakan pati singkong atau jagung, teknologi yang sama juga sangat memungkinkan diterapkan pada pati kentang dan potensinya tidak kalah besar untuk dikembangkan dalam waktu dekat.

Dengan meningkatnya kesadaran lingkungan, inovasi bioplastik dari kentang punya peluang besar dalam industri masa depan. Teknologi ini membuka ruang bagi kemasan yang lebih aman, berkelanjutan dan ramah bumi. Kentang pun tidak lagi sekadar bahan makanan, tetapi menjadi solusi kecil bagi masalah lingkungan yang besar. Dari umbi sederhana, lahir harapan baru untuk masa depan yang lebih hijau dan sehat.

Pada akhirnya, kentang mengajarkan satu hal penting: bahwa hal-hal kecil yang terlihat biasa saja ternyata punya dampak besar. Dari bahan makanan yang akrab di mata kita, ternyata tersimpan potensi untuk mengurangi jejak plastik dan menciptakan kemasan yang lebih bertanggung jawab. Inovasi edible film dari pati kentang bukan sekadar eksperimen laboratorium, tetapi langkah nyata menuju masa depan yang lebih bersih. Dan mungkin, lewat pilihan kecil seperti ini, generasi kita bisa menunjukkan bahwa perubahan besar dimulai dari hal-hal paling sederhana—bahkan dari sebutir kentang.

 

 

Referensi

BPS, Statistik Pertanian Hortikultura SPH/BPS-Statistics Indonesia, Agricultural Statistic for Horticulture SPH (2024)

Radhiyatullah, A., Indriani, N., & Ginting, M. H. S. (2015). Pengaruh berat pati dan volume plasticizer gliserol terhadap karakteristik film bioplastik pati kentang. Jurnal Teknik Kimia USU4(3), 35-39.

Sari, F. K. (2014). Ekstraksi pati resisten dari tiga varietas kentang lokal yang berpotensi sebagai kandidat prebiotik. Berkala Ilmiah Pertanian1(3), 38-42.

No comments:

Post a Comment