6.13.2009

Mengapa guru perlu mengembangkan Bahan Ajar ?

Terdapat sejumlah alasan, mengapa guru perlu untuk mengembangkan bahan ajar, yakni antara lain; ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, karakteristik sasaran, dan tuntutan pemecahan masalah belajar. Pengembangan bahan ajar harus memperhatikan tuntutan kurikulum, artinya bahan belajar yang akan kita kembangkan harus sesuai dengan kurikulum. Pada kurikukulum tingkat satuan pendidikan, standard kompetensi lulusan telah ditetapkan oleh pemerintah, namun bagaimana untuk mencapainya dan apa bahan ajar yang digunakan diserahkan sepenuhnya kepada para pendidik sebagai tenaga profesional. Dalam hal ini, guru dituntut untuk mempunyai kemampuan mengembangkan bahan ajar sendiri. Untuk mendukung kurikulum, sebuah bahan ajar bisa saja menempati posisi sebagai bahan ajar pokok ataupun suplementer. Bahan ajar pokok adalah bahan ajar yang memenuhi tuntutan kurikulum. Sedangkan bahan ajar suplementer adalah bahan ajar yang dimaksudkan untuk memperkaya, menambah ataupun memperdalam isi kurikulum.

Apabila bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum tidak ada ataupun sulit diperoleh, maka membuat bahan belajar sendiri adalah suatu keputusan yang bijak. Untuk mengembangkan bahan ajar, referensi dapat diperoleh dari berbagai sumber baik itu berupa pengalaman ataupun pengetahauan sendiri, ataupun penggalian informasi dari narasumber baik orang ahli ataupun teman sejawat. Demikian pula referensi dapat kita peroleh dari buku-buku, media masa, internet, dll. Namun demikian, kalaupun bahan yang sesuai dengan kurikulum cukup melimpah bukan berarti kita tidak perlu mengembangkan bahan sendiri. Bagi siswa, seringkali bahan yang terlalu banyak membuat mereka bingung, untuk itu maka guru perlu membuat bahan ajar untuk menjadi pedoman bagi siswa.

Pertimbangan lain adalah karakteristik sasaran. Bahan ajar yang dikembangkan orang lain seringkali tidak cocok untuk siswa kita. Ada sejumlah alasan ketidakcocokan, misalnya, lingkungan sosial, geografis, budaya, dll. Untuk itu, maka bahan ajar yang dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan karakteristik sasaran. Selain lingkungan sosial, budaya, dan geografis, karakteristik sasaran juga mencakup tahapan perkembangan siswa, kemampuan awal yang telah dikuasai, minat, latar belakang keluarga dll. Untuk itu, maka bahan ajar yang dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa sebagai sasaran.
Selanjutnya, pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan masalah ataupun kesulitan dalam belajar. Terdapat sejumlah materi pembelajaran yang seringkali siswa sulit untuk memahaminya ataupun guru sulit untuk menjelaskannya. Kesulitan tersebut dapat saja terjadi karena materi tersebut abstrak, rumit, asing, dsb. Untuk mengatasi kesulitan ini maka perlu dikembangkan bahan ajar yang tepat. Apabila materi pembelajaran yang akan disampaikan bersifat abstrak, maka bahan ajar harus mampu membantu siswa menggambarkan sesuatu yang abstrak gersebut, misalnya dengan penggunaan gambar, foto, bagan, skema, dll. Demikian pula materi yang rumit, harus dapat dijelaskan dengan cara yang sederhana, sesuai dengan tingkat berfikir siswa, sehingga menjadi lebih mudah dipahami.

C. Tujuan dan Manfaat Penyusunan Bahan Ajar

1. Tujuan

Bahan ajar disusun dengan tujuan:
a. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial siswa.
b. Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh.
c. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

2. Manfaat

Ada sejumlah manfaat yang dapat diperoleh apabila seorang guru mengembangkan bahan ajar sendiri, yakni antara lain; pertama, diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, kedua, tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk diperoleh, ketiga, bahan ajar menjadi labih kaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi, keempat, menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar, kelima, bahan ajar akan mampu membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan siswa karena siswa akan merasa lebih percaya kepada gurunya.

Di samping itu, guru juga dapat memperoleh manfaat lain, misalnya tulisan tersebut dapat diajukan untuk menambah angka kredit ataupun dikumpulkan menjadi buku dan diterbitkan.

Dengan tersedianya bahan ajar yang bervariasi, maka siswa akan mendapatkan manfaat yaitu, kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik. Siswa akan lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru. Siswa juga akan mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya.

PENGERTIAN BAHAN AJAR

Dari uraian tentang pengertian sumber belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.

Bahan ajar atau teaching-material, terdiri atas dua kata yaitu teaching atau mengajar dan material atau bahan.

Menurut University of Wollongong NSW 2522, AUSTRALIA pada website-nya, WebPage last updated: August 1998, Teaching is defined as the process of creating and sustaining an effective environment for learning.

Melaksanakan pembelajaran diartikan sebagai proses menciptakan dan mempertahankan suatu lingkungan belajar yang efektif.

Paul S. Ache lebih lanjut mengemukakan tentang material yaitu:
Books can be used as reference material, or they can be used as paper weights, but they cannot teach.

Buku dapat digunakan sebagai bahan rujukan, atau dapat digunakan sebagai bahan tertulis yang berbobot.

Dalam website Dikmenjur dikemukakan pengertian bahwa, bahan ajar merupakan seperangkat materi/substansi pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau KD secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu.

Lebih lanjut disebutkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai:
a. Pedoman bagi Guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa.
b. Pedoman bagi Siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya.
c. Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.
Pendapat lain mengatakan sebagai berikut;

Definition of teaching material
They are the information, equipment and text for instructors that are required for planning and review upon training implementation. Text and training equipment are included in the teaching material.( Anonim dalam Web-site)

Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/instruktor untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.

Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. (National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training).

Pengelompokan bahan ajar menurut Faculté de Psychologie et des Sciences de l’Education Université de Genève dalam website adalah sebagai berikut :

Integrated media-written, audiovisual, electronic, and interactive-appears in all their programs under the name of Medienverbund or Mediamix (Feren Universitaet and Open University respectively).
http://tecfa.unige.ch/tecfa/general/tecfapeople/peraya.html>http:// tecfa.unige.ch/tecfa/general/tecfa-people/ peraya.html, Faculté de Psychologie et des Sciences de l’Education Université de Genève.

Media tulis, audio visual, elektronik, dan interaktif terintegrasi yang kemudian disebut sebagai medienverbund (bahasa jerman yang berarti media terintegrasi) atau mediamix.

Sedangkan Bernd Weidenmann, 1994 dalam buku Lernen mit Bildmedien mengelompokkan menjadi tiga besar, pertama auditiv yang menyangkut radio (Rundfunk), kaset (Tonkassette), piringan hitam (Schallplatte). Kedua yaitu visual (visuell) yang menyangkut Flipchart, gambar (Wandbild), film bisu (Stummfilm), video bisu (Stummvideo), program komputer (Computer-Lernprogramm), bahan tertulis dengan dan tanpa gambar (Lerntext, mit und ohne Abbildung). Ketiga yaitu audio visual (audiovisuell) yang menyangkut berbicara dengan gambar (Rede mit Bild), pertunjukan suara dan gambar (Tonbildschau),dan film/video.

Dari berbagai pendapat di atas dapat disarikan bahwa bahan ajar adalah merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.


Sebuah bahan ajar paling tidak mencakup antara lain :
a. Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
b. Kompetensi yang akan dicapai
c. Content atau isi materi pembelajaran
d. Informasi pendukung
e. Latihan-latihan
f. Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)
g. Evaluasi
h. Respon atau balikan terhadap hasil evaluasi

PENGERTIAN BAHAN AJAR

Guna menghasilkan tamatan yang mempunyai kemampuan sesuai standard kompetensi lulusan, diperlukan pengembangan pembelajaran untuk setiap kompetensi secara sistematis, terpadu, dan tuntas (mastery learning).

Pada pendidikan menengah umum, di samping buku-buku teks, juga dikenalkan adanya lembar-lembar pembelajaran (instructional sheet) dengan nama yang bermacam-macam, antara lain: lembar tugas (job sheet), lembar kerja (work sheet), lembar informasi (information sheet) dan bahan ajar lainnya baik cetak maupun non-cetak. Semua bahan yang digunakan untuk mendukung proses belajar itu disebut sebagai bahan ajar (teaching material).

Untuk pembelajaran yang bertujuan mencapai kompetensi sesuai profil kemampuan tamatan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diperlukan kemampuan guru untuk dapat mengembangkan yang tepat. Dengan pendekatan belajar tuntas (mastery learning) diharapkan siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi secara utuh, sesuai dengan kecepatan belajarnya. Untuk itu bahan ajar hendaknya disusun agar siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran mencapai kompetensi.

Terdapat dua istilah yang sering digunakan untuk maksud yang sama namun sebenarnya memiliki pengertian yang sedikit berbeda, yakni sumber belajar dan bahan ajar. Untuk itu, maka berikut ini akan dijelaskan terlebih dahulu tentang pengertian sumber belajar dan bahan ajar.

1. Pengertian Sumber Belajar

Sering kita dengar istilah sumber belajar (learning resource), orang juga banyak yang telah memanfaatkan sumber belajar, namun umumnya yang diketahui hanya perpustakaan dan buku sebagai sumber belajar. Padahal secara tidak terasa apa yang mereka gunakan, orang, dan benda tertentu adalah termasuk sumber belajar.

Sumber belajar dalam website bced didefinisikan sebagai berikut: Learning resources are defined as information, represented and stored in a variety of media and formats, that assists student learning as defined by provincial or local curricula. This includes but is not limited to, materials in print, video, and software formats, as well as combinations of these formats intended for use by teachers and students. http://www.bced.gov.bc.ca/irp/appskill/ asleares.htm January 28, 1999.


Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh siswa ataupun guru.

Sadiman mendefinisikan sumber belajar sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk belajar, yakni dapat berupa orang, benda, pesan, bahan, teknik, dan latar (Sadiman, Arief S., Pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pembelajaran, makalah, 2004)

Menurut Association for Educational Communications and Technology (AECT, 1977), sumber belajar adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran.

Dengan demikian maka sumber belajar juga diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.

Dari pengertian tersebut maka sumber belajar dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Tempat atau lingkungan alam sekitar yaitu dimana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku maka tempat itu dapat dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti sumber belajar, misalnya perpustakaan, pasar, museum, sungai, gunung, tempat pembuangan sampah, kolam ikan dan lain sebagainya.
b. Benda yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku bagi peserta didik, maka benda itu dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya situs, candi, benda peninggalan lainnya.
c. Orang yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu di mana peserta didik dapat belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya guru, ahli geologi, polisi, dan ahli-ahli lainnya.
d. Bahan yaitu segala sesuatu yang berupa teks tertulis, cetak, rekaman elektronik, web, dll yang dapat digunakan untuk belajar.
e. Buku yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh peserta didik dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya buku pelajaran, buku teks, kamus, ensiklopedi, fiksi dan lain sebagainya.
f. Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kerusuhan, peristiwa bencana, dan peristiwa lainnya yang guru dapat menjadikan peristiwa atau fakta sebagai sumber belajar.


Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta didik maupun guru apabila sumber belajar diorganisir melalui satu rancangan yang memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Jika tidak maka tempat atau lingkungan alam sekitar, benda, orang, dan atau buku hanya sekedar tempat, benda, orang atau buku yang tidak ada artinya apa-apa.

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

A. Latar Belakang

Sebagai konsekuensi atas terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional, telah menerbitkan berbagai peraturan agar penyelenggaraan pendidikan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) paling tidak dapat memenuhi standar minimal tertentu. Berbagai standar tersebut adalah: (1) standar isi, (2) standar kompetensi lulusan, (3) standar proses, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan.

Dalam pencapaian standar isi (SI) yang memuat standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dicapai oleh peserta didik setelah melalui pembelajaran dalam jenjang dan waktu tertentu, sehingga pada gilirannya mencapai standar kompetensi lulusan (SKL) setelah menyelesaikan pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu secara tuntas. Agar peserta didik dapat mencapai SK, KD, maupun SKL yang diharapkan, perlu didukung oleh berbagai standar lainnya, antara lain standar proses dan standar pendidik dan tenaga kependidikan.

Dalam PP nomor 19 tahun 2005 Pasal 20, diisyaratkan bahwa guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran, yang kemudian dipertegas malalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Salah satu elemen dalam RPP adalah sumber belajar. Dengan demikian, guru diharapkan untuk mengembangkan bahan ajar sebagai salah satu sumber belajar.

Selain itu, pada lampiran Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, juga diatur tentang berbagai kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik, baik yang bersifat kompetensi inti maupun kompetensi mata pelajaran. Bagi guru pada satuan pendidikan jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), baik dalam tuntutan kompetensi pedagogik maupun kompetensi profesional, berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam mengembangkan sumber belajar dan bahan ajar.

Oleh karena itu, disamping sebagai implementasi dari Permendiknas nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Ditjen Mandikdasmen bahwa rincian tugas Subdirektorat Pembelajaran - Dit. PSMA (yang antara lain disebutkan bahwa melaksanakan penyiapan bahan penyusunan pedoman dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan kurikulum) dipandang perlu menyusun panduan bagi guru SMA sehingga dapat dijadikan salah satu referensi dalam pengembangan bahan ajar.


B. Tujuan

Penyusunan Panduan ini bertujuan :
1. Menjelaskan pentingnya bahan ajar dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SMA.
2. Menjelaskan konsep dasar bahan ajar.
3. Mengemukakan berbagai jenis bahan ajar.
4. Menjelaskan langkah-langkah penyusunan bahan ajar.


C. Manfaat

Bahan ajar merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Melalui bahan ajar guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dan siswa akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar. Bahan ajar dapat dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik materi ajar yang akan disajikan. Buku ini disusun dengan harapan bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan dengan pengembangan bahan ajar, seperti kepala sekolah, guru, pengawas sekolah menengah atas maupun pembina pendidikan lainnya. Bagi kepala sekolah buku ini dapat dijadikan bahan pembinaan bagi guru yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan bahan ajar.

Kepala sekolah dalam kegiatannya sehari-hari juga memerlukan bahan ajar sebagai alat bantu dalam melakukan promosi ataupun presentasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan sekolah.

Bagi guru buku ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai rujukan dalam mengembangkan bahan ajar. Dengan mempelajari buku ini diharapkan para guru di sekolah akan mendapatkan informasi tentang pengembangan bahan ajar yang pada gilirannya para guru dapat mengembangkan bahan ajar untuk membantu dirinya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Di samping itu diharapkan guru juga akan termotivasi untuk mengembangkan bahan ajar yang beragam dan menarik sehingga akan menghasilkan satu kegiatan belajar mengajar yang bermakna baik bagi guru maupun bagi peserta didiknya. Pengembangan bahan ajar adalah merupakan tanggung jawab guru sebagai pengajar bagi peserta didik di sekolah.

Bagi pengawas sekolah menengah atas atau para pembina pendidikan lainnya keberadaan buku pedoman ini pasti bermanfaat. Karena setiap pengawas harus mengetahui berbagai hal yang dilakukan oleh guru, sehingga jika terdapat kesulitan yang dialami oleh guru, pengawas dapat segera membantunya. Dengan membaca buku pedoman ini pengawas akan mendapatkan pemahaman dan masukan-masukan tentang bahan ajar yang dapat dikembangkan oleh guru dalam meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian maka pengawas akan mendapatkan bekal dalam melaksanakan tugas kepengawasan yaitu membina guru dalam mengembangkan bahan ajar.

6.12.2009

East Java Won General Champion in 2009 Student Competence Contest Inter Senior Vocational High School

Jakarta, Monday (25 May 2009) -- East Java contingent came forward as General Champion in 2009 Student Competence Contest Inter Senior Vocational High School (LKS SMK) XVII took place from 21 – 24 May 2009 in Arena Pekan Raya Jakarta. East Java province succeeded to grab ten gold medals, for silvers, and nine bronzes.

Occupied at second rank in 2008 LKS SMK XVII in Makassar, South Sulawesi, East Java contingent moved aside Central Java that became general champion last year. Special Capital District of Jakarta occupied second rank grabbing ten gold medals, one silver, and eight bronzes, while third rank occupied by West Java achieving five gold medals, seven silvers, and three bronzes.


Minister of National Education (Mendiknas) Bambang Sudibyo on Monday (05/25/2009) in Arena Pekan Raya Jakarta, submitted immediately the permanent trophy to the representative of East Java Province, Special Capital District of Jakarta, and West Java Province. Besides, Mendiknas also provided cycle trophy to East Java Contingent.

Mendiknas said, these products of SMK’s student work could be a valuable chief capital for development of SMK in the future, including as a type of the school contribution to take part in encouraging initial step of the national technology resurrection. "We should prove that SMK was able to prepare the Indonesian children in order to have world class vocational competence“” he said.

Mendiknas said, this task of LKS SMK performed together with exhibition to industrial partner shown enabling to display works that could be proud. “Therefore, the Minister said, cooperation between SMK and world of industrial business should be continuously supported and improved."

Director General of Elementary and Junior Education Management, Depdiknas, Suyanto reported, in order to realize competence standard in the implementation of LKS SMK, assessment by international criteria reference used. He said, from 50 fields of contest there were some competitions yet unable to meet with the minimum competence criteria, so that juries decided for not confirming the champion. He mentioned, some fields of competition were mould making, mechatronics, mobile robotics, and pattern making. “It was, of course, a matter of evaluation and challenge for all of us particularly teachers as well as supplies and infrastructure for the coming," he said.

Suyanto said, this task of competition combined with creation fair of SMK student was able to attract more than 1,000 visitors every day. In addition, he said, significant transaction has occurred because palm plantation and oil employers were interested to order 1,000 units of pick-up car, 100 sets of electronic and automotive device, and 12 travel agencies ordered minibus trailer package. “This achievement, he said, was reflection that vocational education became unusual potency and reasonable for being education interest in the future.”***

Sumber: Pers Depdiknas

6.09.2009

TASK-BASED LEARNING THROUGH RESOURCES-BASED LEARNING

Abstract

Task-based learning involves the use of resourceful environment. In the classroom, the idea is to get something done via the language, to read a text and do something with the information. The activities are the one which actually occurs in real-world situations. A task approach conveys to students the value of fluent and efficient reading, reading for a specific purpose which means reading texts in different ways depending on the information needed and the task to be carried out. In addition, students work with authentic texts from the start by which they derive a sense of accomplishment from their progressively greater comprehension and more extended use of the text.

Keyword : Task Based Learning, Resource Based Learning


The final end of the teaching learning process is to enable students to become independent learners. In the university levels, three types of learning is promoted in every classes: 1) face to face interaction; 2) structured assignment; and 3) independent learning. In the school levels, Students Active Learning (SAL) method emphasizes similar philosophy, which is promoting independent learning. However, only few attention is paid to systematically educate the learners to be independent learners. The learning process designed by lecturers in the university level, for examples, focuses more on face to face interaction and structured assignment. Almost no systematic effort has been done to encourage the students and to provide facilities in the campus setting where independent learning is possible to do. Similarly at schools, classes will be paralyzed without teacher’s attendance which implies that students are very dependent to their instructors. Both show how independent learning needs serious attention.
This article discusses task-based learning as an approach in language learning to promote independent learning. This concept suggests the importance of the availability of varied resources which we call resources-based learning. In this article, we propose that the best implementation of task-based learning is through resources-based learning and the goal of the learning is to promote independent learners.


Mutsyuhito Solin and Sri Minda Sari
Dosen Fakultas Bahasa Universitas Negeri Medan

Proceeding of International Seminar Paper “Resource Based Instruction”
Department of Educational Technology Postgraduate Studies, The State University of Medan Cooperation with
Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI) North Sumatra

6.07.2009

THE POTENCY OF SIBOLANGIT RECREATION FOREST AS LEARNING RESOURCE FOR PLANT ECOLOGY INSTRUCTION

Abstract

Plant ecology is one the subject matter of many subject matters that be taught for biology student at the university, including at the biology department of State University of Medan. It is hoped, through out that subject matter the student has competency to comprehend diversity and abundance of plant in nature. For this purpose, plant ecology instruction must be done by using of learning resource that be found nature. One of learning resource is Sibolangit recreation forest. In this paper, it is discussed and presented the research result the potency of Sibolangit recreation forest as learning resource for plant ecology instruction. Research result showed, there was 71 species of flora that belong to 48 family that can be used as learning resource for plant ecology instruction. Pterocarpus indicus, Bauhinia purpurea and Samanea saman were dominant species. The plant which has specific and giant flower, namely Amorphophallus titanicum Becc can also be found in that recreation forest.

Keyword : Potency, Sibolangit, Forest, Resource Based Instruction, Ecology Instruction


Ecology is biology branch that discuss interrelationship between organisms with their environment. Begon et al. (1990) define ecology as the science that discusses interactions which determine the distribution and abundance of organisms in nature. Therefore, in ecology be studied diversity, abundance and distribution of organisms in nature, as well as factors that influence of biodiversity, abundance and distribution of plants and animals in nature. The objectives of plant ecology instruction at the university, including in Biology department of State University of Medan are the students have competency to comprehend diversity and abundance of Indonesia flora, especially that be found in North-Sumatera. The student must also comprehend its distribution in nature.
As the branch of biology, plant ecology instruction can be carried out both in classroom and laboratory, as well as in the field or nature laboratory (Subiyanto, 1990). In this case, to reach the competency, the learning resource or media which be found in classroom, laboratory, and nature environment can be used. Sudjoko (1985) has confirmed, biology instruction, including plant ecology can be done through field trip in nature or by ecotourism as according to Fandeli and Mukhlison (1994). Of course, the instruction model like this can decrease or lost of verbalism from the student life. Sibolangit recreation forest with the space 24.85 ha is one of biodiversity conservation area in Northsumatera. This forest situates in Sibolangit, Deli Serdang regency. Its distance is 40 km from Medan and can be reached by bus only in one hour. Actually, with its flora richness, Sibolangit recreation forest has big potency as learning resource or media for biology instruction, especially for plant ecology. This big potency can be used by students that live at around of Berastagi city, Karo regency, Dairi regency, Deli Serdang regency and Medan city. However, information about biodiversity and abundance of its flora is still restrictive. Based on that problems, research which attempts to exposes the potency of Sibolangit recreation forest as learning resource for biology instruction, including plant ecology has been done in the year 1994/1995 (Binari et al., 1995). The result of the research is discussed in this paper.

B. Solution
1. Material and Methods
For study the potency of Sibolangit recreation forest as learning resource for plant ecology instruction, some material and method were needed. These materials and methods were as following:
a. Research tools and materials
Some tools and materials that have been used for observation and registration of flora were loupe, telescope, pencil, camera, note book, and stereo microscope. Meanwhile, machete, scissor, knife, stake and some rope were used for flora collection.

b. Research procedures
Research procedures were done according to Krebs (1989). In this case, biodiversity and abundance of flora was taken from the quadrates plot that be placed on the forest. Furthermore, flora identification was based on reference of Laurence (1951), Latiff (1991), Hsuan Keng (1969), Marsono (1977), Heywood (1978), Steenis (1950, 1988), and Tjitrosoepomo (1989). However, data analysis of prominence value of plant or flora was carried out according to Barbour et al. (1987) and Brower et al. (1990).

c. Result and Discussions
• Flora diversity
Result of research showed, there was at least 71 flora species that belong to 48 family in Sibolangit recreation forest that can be used as learning resource for plant ecology instruction at the university.

From the above data, there is so many species and family of flora that grow in Sibolangit recreation forest. Therefore, it means, the role or potency of that forest as learning resource for plant ecology instruction can be confirmed. Actually, this potency can also be used for higher plant taxonomy instruction. By using this recreation forest as learning resource or media, verbalism can be lost from plat ecology instruction and other science of biology branches (Sadiman et al., 2007). It means too, the quality of plant ecology instruction as a science can be increased both in process and product (Dunkin & Biddle, 1974). Hence, the purpose of plant ecology learning, namely to understand the real life process in environment can be reached, too (Sjarmidi & Rustaman, 1995). Improvement of plant ecology instruction both in process and product have implication on graduation quality, mainly on graduation who will work as teacher in the future. Furthermore, this matter has direct effect on student quality as the future generation of the nation.

Plant ecology instruction by using the potency of Sibolangit recreation forest can give direct learning experience and real for students. This matter can also give more learning experience retention for students as according to Edgar Dale (Sadiman et al. 2007). In this case, percent of retention according to Edgar Dale through out his cone experience is 10% from what we read, 20% from what we hear, 30% from what we see, 50% from what we both see and hear, 70% from what we say and 90% from what we both do and say and 95% what we teach others. In Sibolangit recreation forest can be found the plant that has giant flower, namely Amorphophallus titanicum Becc. This plant has specific character. The height of its flower can reach circa 210 cm at the blossom times. The distribution of this plant is restrictive and grows only in Sumatera. Therefore, many peoples want to search that plant for seeing.
Some animals that can also be found in Sibolangit recreation forest that can be used as learning resource for biology instruction. They are mouse deer (Tragalus sp), Owa (Hylobates moloch), Siamang (Hylobates sindactilus) and Owl (Tito spp.).

Dr. Binari Manurung, M.Si
Dosen Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Medan,
Dosen Program Pascasarjana Unimed

Proceeding of International Seminar Paper“Resource Based Instruction”
Department of Educational Technology Postgraduate Studies, The State University of Medan Cooperation with
Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI) North Sumatra